NARARYA WIJAYA CDMP, AP., S.KH

Menggali Khazanah dan Kearifan

Sebuah Pengantar dari VREEMDE OOSTERLINGEN; GOLONGAN PERANAKAN DAN NASIONALISME INDONESIA

26 October 2011 - dalam Sosial Oleh nararya-wijaya-fkh07

Dari Sabang sampai Merauke.

Berjajar pulau-pulau.

Sambung menyambung  menjadi Satu.

Itulah Indonesia.

Indonesia Tanah Airku.

Aku berjanji padamu.

Menjunjung tanah airku.

Tanah airku Indonesia

(R. Suharjo)

Bait-bait lagu di atas telah menggambarkan bagaimana indahnya sebuah persatuan yang dibangun atas dasar ke-Bhinneka Tunggal Ika-an, dari Sabang sampai Merauke. Semuanya bersatu pada satu naungan yang bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sangat miris ketika semangat-semangat persatuan seolah hanya menjadi slogan yang bersifat sesaat, mengingat masih banyaknya pertikaian, bentrokan, permasalahan, yang berlatar belakang  SARA (suku, agama, dan ras).

Isu-isu etnisitas, minoritas, pluralitas, dan disintegrasi lainnya  telah menjadi permasalahan lama di bumi pertiwi ini. Menurut sebuah sumber yang berbicara mengenai hal ini, permasalahan etnisitas, minoritas, dan sebagainya disebabkan karena beberapa faktor. Pertama, karakter alamiah Indonesia sebagai negara plural akan selalu melahirkan masalah state and nation buildings. Kedua, masalah ini belum sepenuhnya selesai dan bahkan dipersulit oleh faktor kemiskinan dan kompleksitas hubungan antara masyarakat dan negara. Kesulitan dan masalah akan muncul jika negara gagal mewakili dan memenuhi kepentingan masyarakat yang majemuk tersebut. Dapat dikatakan bahwa integrasi sosial akan terkait dengan kemampuan Negara untuk memenuhi kepentingan masyarakat, state-building, nation-building, serta masalah sosial ekonomi yang dihadapi masyarakat. Permasalahan inilah yang dalam perjalanan sejarah banyak dialami etnis Tionghoa.

Sejarah pergerakan nasional diidentikkan dengan sebuah perjuangan murni dari orang pribumi, Indonesia asli. Pernyataan ini bisa dilihat dari banyaknya tokoh-tokoh yang diakui sebagai pahlawan nasional. Mulai dari pahlawan perintis kemerdekaan sampai pahlawan revolusi. Jika sejarah adalah pernyataan atas peristiwa yang ditulis apa adanya, maka sudah selayaknya kita belajar secara objektif dan apa adanya pula. Bukan bermaksud untuk meragukan kapasitas para pahlawan nasional, tetapi sebagai bentuk pembelajaran melihat fakta secara objektif. Mata pelajaran untuk tingkat dasar sampai menengah belum ada yang menjelaskan mengenai peran kaum Indo atau keturunan peranakan dalam sejarah pergerakan nasional Indoenesia.

Sejarah Indonesia, khususnya sejarah pergerakan, banyak diisi oleh tokoh-tokoh pribumi. Siapa yang tidak mengenal Ki Hajar Dewantoro, KH. Agus Salim, KH. Ahmad Dahlan, Sutan Sjahrir, Ir. Soekarno, M. Hatta, Bung Tomo, dan sebagainya. Padahal selain itu masih banyak tokoh-tokoh dari golongan peranakan yang mengisi ruang perjuangan menuju dan mengisi kemerdekaan Indonesia. Banyak diantara kita yang belum mengenal AR. Baswedan dengan partai Arabnya, Tjoe Bou San dengan majalah Sin Ponya, Liem Koen Hian dengan Partai Tionghoa Indonesianya, Yap Thiam Hien dan Kwee Kek Beng yang berjuang dalam bidang jurnalistik. Mereka semua berjuang dengan kapasitas dan keahlian  masing-masing demi nasionalisme Indonesia.

Para golongan peranakan ternyata memiliki peran penting dalam sejarah pergerakan nasional. Bahkan kaum pribumi banyak yang belajar kepada mereka. Mereka telah menjadi bangsa Indonesia dan sudah sepatutnya pula dihargai layaknya pahlawan nasional lainnya. Pergerakan mereka memang tampak bukan perjuangan fisik, mengangkat senjata melakukan pertempuran seperti halnya para pejuang kemerdekaan. Mayoritas dari mereka adalah jurnalis, negarawan, pemikir, dan akademisi. Ini merupakan ciri khas yang menjadi pembeda antara perjuangan modern dengan perjuangan konvensional. Siapapun yang telah melakukan perjuangan demi kebaikan bangsa ini sudah sepatutnya mendapatkan penghargaan sebesar-besarnya, mengingat taruhannya tidak hanya harta, tetapi juga darah dan pemikiran. Siapapun tokohnya, dimanapun pergerakannya, apapun jenis perjuangannya, seberapa lama perjuangannya, mereka adalah pahlawan yang patut dihargai.

Politik pecah belah (Devide et Impera) yang dilakukan oleh Belanda telah berakibat fatal pada dinamika masyarakat yang bertempat tinggal di Indonesia (baca: Hindia Belanda) kala itu . Salah satu konsepnya adalah pembagian struktur masyarakat. Pembedaan tersebut didasarkan pada rasial masing-masing kelompok masyarakat. Masyarakat terbagi dalam tiga klasifikasi menurut peraturan kolonialis Belanda. Pertama, masyarakat Eropa yang menempati kelompok tertinggi.

Kedua, Vreemde Oosterlingen (orang-orang timur asing). Masyarakat ini termasuk diantaranya adalah masyarakat keturunan Arab, Tionghoa, dan India. Terakhir adalah pribumi atau Inlander yang menempati kelompok terendah. Khusus untuk kelompok Vreemde Oosterlingen mereka mendapat sebuah peraturan yang cukup tegas dari pemerintahan kolonial. Peraturan tersebut dikenal dengan istilah Wijkenstelsel dan Passenstelsel. Wijkenstelsel merupakan peraturan yang menginstruksikan bahwa orang-orang timur asing harus bertempat tinggal pada wilayah tertentu sesuai dengan ras dan komunitasnya. Passenstelsel merupakan peraturan surat jalan, maksudnya adalah jika orang-orang timur asing mau keluar dari kampung tempat tinggalnya maka harus izin dahulu untuk mendapat surat jalan. Kelompok terakhir adalah golongan pribumi, anak bumi sendiri yang dijaga ketat agar tidak terkena gagasan-gagasan kemerdekaan dan pikiran-pikiran yang maju.

Kebijakan tersebut salah satunya diterapkan di Surabaya. Sesuai peraturan Wijkenstelsel , orang-orang Arab menempati kawasan Ampel dan masyarakat Tionghoa menempati wilayah Kembang Jepun (sekarang dekat Jembatan Merah). Peraturan tersebut mengakibatkan keterpisahan antara golonganTimur Asing (khususnya Tionghoa) dengan pribumi meskipun pada tahun 1920 UU ini dihapus. Sampai sekarang di Surabaya masih jelas terlihat bagaimana model perkampungan tersebut yang merupakan hasil kebijakan pada zaman kolonial.

Kondisi itulah yang menyebabkan terjadinya kecemburuan sosial antara pribumi dengan non pribumi dalam kehidupan sehari-hari. Keadaan tersebut sangat memprihatinkan mengingat Indonesia dibangun atas dasar ke-Bhinneka Tunggal Ikaan dan semangat kebersamaan. Buku ini akan mengupas secara mendalam tentang peran golongan peranakan, khususnya peranakan Tionghoa dan Arab dalam bidang politik yang mengisi ruang sejarah perjalanan bangsa Indonesia dalam meraih dan mengisi kemerdekaannya. Dari sini terdapat sebuah pembelajaran bahwa kemajuan akan sebuah bangsa tidak hanya berpaku pada satu suku, satu agama, satu keyakinan. Indonesia telah membuktikan bahwa, negeri ini dibangun oleh semangat kebersamaan dan keberagaman. Sebuah semangat yang membentuk karakter bangsa dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.



[1] www.fisip.ui.ac.id dalam Sosial Integration, etnichity &Poverty

[2] Moehammad Roem, “Menemukan Pribadi dan Tanah Air Indonesia”, dalam Kompas, Jum’at 19 September 1980.

[3] Handinoto.  Arsitektur Dan Kota-Kota Di Jawa Pada Masa Kolonial. (Yogyakarta: Graha Ilmu. 2010), hlm. 119

[4] A.R. Baswedan, “Jangan Sampai Ada Paksaan, Tapi Harus Ada Tuntunan”, dalam Prisma. No.3. Maret 1982. Hlm. 69.

[5] Peranakan Tionghoa dan Arab merupakan golongan timur asing yang jumlahnya paling banyak di wilayah Indonesia.



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

Counter

World Clock

Widget Box

Counter Flag

Soal CPNS

PRIMBON RAMALAN JODOH

NUMEROLOGI RAHASIA CINTA

Pengunjung

    147.327