NARARYA WIJAYA CDMP, AP., S.KH

Menggali Khazanah dan Kearifan

PARENTING STUDIES SEBAGAI SOLUSI TINGGINYA KASUS NIKAH SIRI, SEKS PRANIKAH, PERNIKAHAN DINI, PENULARAN PENYAKIT KELAMIN, KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA, PERCERAIAN DAN GANGGUAN PERKEMBANGAN PSIKOLOGI ANAK

09 October 2011 - dalam Sosial Oleh nararya-wijaya-fkh07

Belakangan ini sering diberitakan banyaknya kasus nikah siri. Seks pranikah juga sudah tidak asing di telinga kita meskipun agama jelas-jelas mengharamkan, juga dampaknya dapat menimbulkan penyakit infeksi pada kelamin. Bahkan bagi sebagian remaja, seks pranikah dianggap wajar sesuai dengan perubahan zaman. Hal tersebut di atas juga berkaitan dengan pernikahan usia muda selain akibat budaya kalangan tertentu yang menikahkan anaknya pada usia yang tergolong masih sangat dini. Banyaknya kasus kekerasan dalam rumah tangga dan perceraian yang berdampak pula pada gangguan perkembangan psikologi anak.

Kebanyakan dari masalah yang telah disebutkan di atas adalah akibat dari kelalaian orang tua, pengaruh lingkungan, ekonomi, perkembangan media komunikasi dan kurangnya pengetahuan yang dimiliki remaja. Remaja memang sangat rentan terhadap pergaulan bebas, keadaan ini sangat memprihatinkan. Seperti kita tahu, bahwa masa remaja merupakan masa untuk mencari jati diri. Remaja selalu ingin mencoba berbagai hal, yang kadang kala hal tersebut malah menjerumuskan mereka pada hal-hal yang negatif. Sehingga banyak masalah akan muncul. Tidak hanya menyangkut dirinya, orang tua pun akan ikut terlibat (Sugiyono, 2009).

Remaja yang mengaku pernah melakukan hubungan seks pranikah berusia 13 sampai 18 tahun dan 85 persen melakukan di rumah mereka ( Bangka Pos, 2010). Hal ini jelas menandakan kurangnya perhatian dari orang tua. Di Jabodetabek, berdasarkan data BKKBN, pada 2005 sebanyak 51 persen remaja pernah melakukan hubungan seks pranikah ( Bangka Pos, 2010). Survei yang dilakukan BKKBN tahun 2008 menyebut 63 persen remaja di beberapa kota besar di Indonesia telah melakukan seks pra nikah (Kompas.com, 2010). Terjadi peningkatan kejadian sekitar 12 persen antara data tahun 2005 dengan tahun 2008. Perilaku ini dapat mengakibatkan penyakit kelamin seperti kanker serviks atau kanker leher rahim yang disebabkan oleh Human Papilloma Virus (HPV). Infeksi human papilloma virus adalah sesuatu yang sangat mudah terjadi. Diperkirakan tiga per empat dari jumlah orang yang pernah melakukan hubungan seks, laki-laki maupun perempuan, mengalaminya. Virus ini menular terutama melalui hubungan seks, termasuk anal sex, oral sex, dan hand sex. Sebagian besar di antaranya terinfeksi pada umur 15-30 tahun, yakni dalam kurun waktu empat tahun setelah melakukan hubungan seks yang pertama. Orang yang terinfeksi HPV genital biasanya tidak tahu dia terinfeksi, karena infeksi ini tidak menimbulkan gejala sama sekali (kecuali yang menimbulkan “jengger ayam”), dan sistem kekebalan tubuh segera menyerang supaya virus ini mati atau lemah –sehingga tidak aktif. Selain itu juga bisa terjangkit berbagai macam penyakit kelamin seperti Syphilis, infeksi jamur, Herpes, Gonorrhea, Chlamydia, Vaginitis, bisul pada alat kelamin, kutu kelamin (Ptyrus pubis), Pelvic Inflammatory Disease (PID), kutu di bawah kulit, Bacterial vaginosis, dan AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome).

Kurangnya pendidikan moral di sekolah juga sering disebut-sebut sebagai penyebab remaja/siswa terjebak dalam pengaruh negatif dunia luar. Kerusakan moral yang tidak segera diatasi akhirnya menimbulkan masalah-masalah baru bagai mata rantai. Pergeseran nilai di tengah-tengah masyarakat kita saat ini telah mencapai level yang sangat mengkhawatirkan. Untuk memulihkan hal ini tentu tidak mungkin dalam waktu yang singkat dan informasi kepada masyarakat ataupun kampanye dengan separuh hati dan terputus-putus. Lembaga pendidikan formal diharapkan dapat membantu pelaksanaan dalam pemulihan dan penjagaan nilai-nilai moral untuk generasi selanjutnya.

Pengaruh media massa juga menjadi pihak yang bertanggung jawab atas kerusakan moral yang terjadi di Indonesia dan seluruh dunia dewasa ini. Tayangan infotainment yang menampilkan sosok public figur yang diidolakan remaja melakukan hal-hal yang tidak baik seperti mengkonsumsi narkoba, free seks, selingkuh, kawin cerai dan hal lain yang tak pantas ditiru akhirnya seolah menjadikan contoh paradigma baru trend dunia modern pada masyarakat. Belum lagi iklan kondom di media massa hanya menjembatani pelaku seks pranikah dan tukang gonta-ganti pasangan untuk melancarkan aksinya.

Isu pernikahan dini saat ini marak dibicarakan. Hal ini dipicu oleh pernikahan Pujiono Cahyo Widianto, seorang hartawan sekaligus pengasuh pesantren dengan Lutviana Ulfah. Pernikahan antara pria berusia 43 tahun dengan gadis belia berusia 12 tahun ini mengundang reaksi keras dari Komnas Perlindungan Anak. Dari sudut pandang kedokteran, pernikahan dini mempunyai dampak negatif baik bagi ibu maupun anak yang dilahirkan. Menurut para sosiolog, ditinjau dari sisi sosial, pernikahan dini dapat mengurangi harmonisasi keluarga. Hal ini disebabkan oleh emosi yang masih labil, gejolak darah muda dan cara pikir yang belum matang. Melihat pernikahan dini dari berbagai aspeknya memang mempunyai banyak dampak negatif. Oleh karenanya, pemerintah hanya mentolerir pernikahan diatas umur 19 tahun untuk pria dan 16 tahun untuk wanita. Anak secara biologis alat-alat reproduksinya masih dalam proses menuju kematangan sehingga belum siap untuk melakukan hubungan seks dengan lawan jenisnya, apalagi jika sampai hamil kemudian melahirkan. Jika dipaksakan justru akan terjadi trauma, perobekan yang luas dan infeksi yang akan membahayakan organ reproduksinya sampai membahayakan jiwa anak. Patut dipertanyakan apakah hubungan seks yang demikian atas dasar kesetaraan dalam hak reproduksi antara isteri dan suami atau adanya kekerasan seksual dan pemaksaan (penggagahan) terhadap seorang anak. Secara psikis anak juga belum siap dan mengerti tentang hubungan seks, sehingga akan menimbulkan trauma psikis berkepanjangan dalam jiwa anak yang sulit disembuhkan. Anak akan murung dan menyesali hidupnya yang berakhir pada perkawinan yang dia sendiri tidak mengerti atas putusan hidupnya. Selain itu, ikatan perkawinan akan menghilangkan hak anak untuk memperoleh pendidikan, hak bermain dan menikmati waktu luangnya serta hak-hak lainnya yang melekat dalam diri anak.

Fakta membuktikan, setahun di Indonesia ada 250.000 perceraian pasangan kawin atau 10 % dari total perkawinan, dan sebagian besar perkawinan adalah mereka yang kawin dini. Efek lebih jauh sangat mengerikan karena janda-janda muda ini akan menjadi sasaran para calo trafiking. Pada sisi lain pernikahan dini menjadi penyebab tingginya angka kematian bayi, yang posisi saat ini secara nasional masihb 34/1000, atau setiap kelahiran 1000 bayi akan mati 34 orang. Sangat mungkin, ibu-ibu muda berusia 12-6 tahun belum siap untuk bereproduksi, atau ada pola penanganan yang salah pada kelahiran bayi (KPAI, 2009) Sebagian besar kasus perceraian terjadi akibat buruknya komunikasi pasangan suami istri, dan bukan semata-mata karena masalah seks. Tercatat sekitar 58 persen kasus perceraian disebabkan faktor komunikasi, sementara masalah seks menempati urutan kedua dalam kasus perceraian. Kasus perceraian yang disebabkan faktor seks hanya sekitar 29 persen saja, sementara sisanya dipicu masalah lain, seperti faktor ekonomi.

Himpitan masalah ekonomi menjadikan temperament seseorang menjadi lebih emosional. Ketidaksiapan seseorang untuk berumah tangga merupakan salah satu faktor masalah ini selain faktor pendidikan pada lingkup keluarga saat orang tersebut sebagai anak ataupun karena lingkungan pendidikan formal yang ditempuh serta profesinya saat ini dan puluhan alasan lainnya. Kecenderungan anak meniru orang tua sangat tinggi sehingga tidak mengherankan jika cara seseorang mendidik anaknya kurang lebih sama dengan cara orang tuanya dulu mendidiknya, kecuali ada faktor luar yang membuatnya bertekad untuk jadi seseorang yang baru. Kekerasan dalam rumah tangga tidak hanya didominasi oleh kaum lelaki saja yang notabene punya kekuatan lebih dibanding dengan perempuan. Perempuan juga berpeluang untuk melakukan hal yang sama dan yang paling sering adalah anak sebagai korban. Anak yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga kebanyakan juga mengalami gangguan perkembangan psikis. Biasanya mereka mengalami gangguan komunikasi dan cenderung pendiam. Bila dibiarkan dapat berkembang ke arah apatis ataupun sadis.

Anak merupakan pusaka bangsa. Nasib bangsa dan negara ke depannya ditentukan oleh bagaimana tumbuh kembang anak-anak. Orangtua pada umumnya sering kali terlambat mengetahui jika anaknya ternyata mengalami gangguan psikologi. Kurangnya informasi dan tidak adanya kemampuan diagnosis dari para orang tua (self diagnose) membuat anak-anak tersebut tidak mendapatkan penanganan sebagaimana mestinya (KOMPAS.com, 2009). Peran orang tua sangat penting dalam mendorong potensi anak. Sayangnya saat ini tidak ada lembaga pendidikan formal maupun kursus yang mengajarkan untuk menjadi orang tua yang baik sehingga mampu membangun keluarga yang kokoh dan mendorong potensi anak. Masih belum ada bentuk sosialisasi tentang peran penting orang tua untuk membentuk generasi yang luar biasa di mana di dalamnya terdapat keluarga yang kuat, kompak, bahagia dan sejahtera. Mendasari dari kondisi tersebut di atas, maka perlu diadakan Parenting Studies pada lembaga pendidikan formal. Parenting studies merupakan pendidikan calon orang tua untuk mempersiapkan pemuda dan pemudi memasuki jenjang pernikahan dengan aman. Memberikan pemahaman akan fungsi dan peran institusi pernikahan sebagai sebuah upaya untuk menyatukan seluruh aspek kehidupan. Memberikan pengajaran dalam membentuk pondasi keluarga yang kokoh, cara mendidik anak dan mendorong potensi anak. Mensosialisasikan seluk beluk dan kerugian nikah siri, akibat dari melakukan seks pranikah dan efek dari pernikahan dini terhadap kelangsungan hidup berumah tangga. Memberikan pengetahuan seks berupa Kesehatan Reproduksi Remaja. Memberikan tips-tips untuk membentengi diri dari pengaruh negatif kemajuan teknologi informasi. Serta memberikan pengetahuan untuk mendiagnosa gangguan perkembangan psikologi anak sejak dini.

Download gagasan tertulis selengkapnya di http://www.4shared.com/document/qn4fb_hK/PKM-GT_Parenting_Studies_2010.html



Read More | Respon : 2 komentar

2 Komentar

Shinta Devi

pada : 10 October 2011


"pendidikan moral berkarakter bangsa yang digali dari kearifan lokal sangat penting untuk membendung sex bebas"


Nararya Wijaya CDMP AP

pada : 30 October 2011


"@Bu Shinta: Wah menarik sekali, contoh real nya seperti apa bu?"


Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

Counter

World Clock

Widget Box

Counter Flag

Soal CPNS

PRIMBON RAMALAN JODOH

NUMEROLOGI RAHASIA CINTA

Pengunjung

    154.075